Sabtu, 29 September 2018

Tembang Penyejuk kalbu

Tembang Penyejuk Kalbu
Cerpen Kebudayaan Kabupaten Tuban
 
         
Suara ponsel dari sudut ruang berdering panjang mengganggu tidur nyenyakku. Suaranya berisik terasa menggelitik sepasang telingaku sehingga aku pun terbangun. Perlahan aku membuka kelopak mataku. Dengan sangat malas, aku menekan saklar yang menempel di dinding kamar untuk menerangi ruang kesayanganku. Aku menatap jam di dinding itu dengan penglihatan yang masih buram. Aku terus menatap jam itu seraya mengucek sepasang bola mataku. Perlahan lahan nan penuh kepastian, jam itu tak lagi sembunyikan waktunya. Jarum jam membentuk sudut siku-siku dengan jarum panjang di angka dua belas, sedangkan jarum pendeknya berada tepat di angka tiga. Aku pun keluar meninggalkan ruang kesayanganku. Aku menuruni anak tangga dengan kondisi sekeliling yang gelap. Cahaya hanya ada di ruang kesayanganku saja. Aku berjalan menuju ke suatu tempat untuk menghilangkan hadats kecilku.
         
Aku hanyalah seorang gadis biasa yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Aku sangat mencintai budaya yang ada di daerah tempat tinggalku. Di pagi nan sunyi itu, aku hanya ingin menerapkan arti lirik dari sebuah tembang salah satu kebudayaan di daerah tempat tinggalku, yaitu Kabupaten Tuban. Kebudayaan itu berupa lagu yang diciptakan oleh Sunan Bonang untuk masyarakat Tuban. Entah mengapa aku sangat tertarik dengan lagu ini. Bagiku lagu ini adalah obat dari segala permasalahan kalbu. Lagu ini mampu menggetarkan hati setiap insan yang mendengarnya. Terdapat pesan tasawuf yang jumlahnya tak sedikit terkandung dalam makna lagu yang berjudul “Tombo Ati” ini.
         
Seperti biasanya, aku menuntut ilmu di salah satu sekolah negeri yang ada di Kabupaten Tuban. Suatu ketika di saat aku berada di ruang kelas, aku melihat seorang gadis dengan usia sebayaku. Dia adalah teman sekelasku, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Hanya sebatas nama yang kutahu darinya. Emil, itulah panggilannya di sekolah. Aku melihat dia duduk termenung di sebuah bangku. Aku mengamati setiap gerak geriknya. Dia membalasnya dengan tatapan heran mengarah kepadaku. Seketika itu aku langsung mengallihkan pandanganku. Dia seorang gadis yang pendiam, bahkan aku tak pernah mendengar sepatah kata yang terucap dari sepasang bibirnya. Di bangku kesayangannya itu, Dia tak pernah beranjak meninggalkan bangku kesayangannya walaupun pada saat waktu istiahat. Menurutku, Emil adalah gadis pendiam yang tidak berbakat untuk mengekspresikan mimik wajahnya. Dia selalu memasang ekspresi wajahnya yang datar. Dia membuatku semakin penasaran. Hal ini mendorongku untuk mulai mendekatinya.

          Awalnya aku bebasa-basi dengannya untuk mencari topik pembicaraan. Aku mengajaknya mengobrol. Setelah mengenalnya, aku pun merasa nyaman dan suka bergaul dengan gadis pendiam sepertinya.Ternyata opiniku salah, dia sangatlah ramah dan enak diajak bicara. Seiring waktu berjalan, kami pun semakin dekat. Banyak topik yang bisa kami jadikan bahan celotehanku dengan dia. Kini dia mulai bisa mengkreasikan mimik wajahnya.

          Kali ini, aku melihat wajah lusuh itu kembali lagi. Aku mendekatinya dan melontarkan berbagai pertanyaan tanpa jeda yang membuatnya malas untuk berkata-kata. Dia menghela napas panjang, aku pun segera menghentikan pertanyaanku. Matanya memerah dan berkaca-kaca hingga meneteskan air mata. Dia langsung merogoh tubuhku lalu memelukku.
“Aku sangat sedih. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Kapan semua ini berakhir?” katanya seraya merangkul tubuhku.
Aku diam seribu bahasa dengan pikiran yang penuh tanda tanya. Dia pun melepaskan pelukannya.  Mungkin karena aku yang terlalu bingung hingga aku tak kuasa untuk membalas pelukan itu.

Dia bercerita bahwa ayahnya bekerja sebagai peraga di sebuah pertunjukan tersohor di daerah  Tuban, yaitu pertunjukan sandur. Sandur sudah tidak asing di telinga masyarakat Tuban lagi. Pertunjukan ini tidak bisa lepas dari hal-hal mistis dari bantuan para makhluk gaib. Mereka selalu menghadirkan roh-roh halus dalam setiap pertunjukanya. Pertunjukan sandur sangatlah erat dengan hal yang juga menimbulkan suasana mistis. Hal inilah yang membuat Emil bersedih. Dia berada di palung kedukaan akan hal yang dilakukan ayahnya. Dia tidak mau ayah kesayangannya hidup dalam pengaruh roh halus. Hal ini dikarenakan dunia kerjanya yang mistis dan memuja roh halus.

          Setelah mendengar hal itu, aku sangat terkejut bagaikan petir di siang bolong itu. Rasa terkejut, iba, dan sedih semua bercampur dan berbaur menjadi satu di dalam hatiku.
“Sungguh anak piatu yang malang,” bisik dalam batinku.
Mataku berkaca-kaca seraya ikut terbaur dalam kesedihan yang dialaminya. Mungkin aku hanya merasakan bagian secuil dari kesedihannya.

          Dia sering menceritakan tingkah laku ayahnya yang makin hari makin aneh. Kerasukan sudah jadi hal wajar lagi bagi ayah Emil. Ayahnya sering berbicara sendiri, menangis, tertawa, bahkan teriak-teriak yang tak jelas. Kurasa ayah Emil sudah semakin akrab dengan roh halus tak kasat mata, bahkan mungkin saja mereka telah bersahabat.
“Roh halus itu sepertinya nyaman bersinggah di tubuh kekar ayahku. Dia suka keluar masuk ke dalam tubuh ayahku dan menjadikan ayahku dalam kendalinya,” Kata Emil seraya tak mau berhenti mengalirkan air mata.
“Ayahku orang yang sangat baik. Aku tidak ingin ayahku berada di jalan yang salah. Semua kebudayaan di daerah ini sama saja. Kebudayaan itu membawa keburukan,” air matanya yang mengalir semakin deras.

          Aku bukanlah penasihat terbaik, aku hanyalah si gadis biasa yang menyukai kebudayaan tembang ciptaan Sunan Bonang yaitu lagu “Tombo Ati”. Dari tembang itu, aku mulai suka memberi nasihat kepada orang lain. Bagiku,  nasihat merupakan celotehan berfaedah untuk orang lain. Aku pun mencari titik celah kesedihan yang dialaminya. Tidak semua kebudayaan di Tuban membawa keburukan. Aku kurang setuju dengan opininya bahwa semua budaya daerah ini buruk. Aku ingin menentang pendapat Emil. Tapi tidak mungkin aku mencari masalah dengan bertengkar karena perbedaan opini seperti ini. Justru aku harus menolong dan menyelamatkannya dari masalahnya.

          Banyak yang tidak sadar akan kebudayaan lain yang membawa kebaikan bagi masyarakat Tuban. Kebudayaan yang memiliki alunan suara indah dan makna mendalam. Aku mengenalkan kebudayaan favoritku kepadanya, yaitu lagu”Tombo Ati”.
“Aku tak mampu menghilangkan kesedihanmu, tetapi aku hanya berusaha untuk mengurangi kesedihanmu.” Kataku seraya menepuk pundaknya.
          Aku menjelaskan makna tembang di setiap lirik lagu tersebut. Lagu itu merupakan gending jawa berisi tasawuf dari Sunan Bonang untuk kebaikan masyarakat Tuban dan sekitarnya. Dalam lagu itu dijelaskan cara mengatasi berbagai persoalan hidup, khususnya masalah kalbu.
“Yang pertama yaitu membiasakan diri untuk membaca al-quran disertai dengan maknanya. Yang kedua yaitu mendirikan sholat di bagian waktu satu per tiganya malam. Yang ketiga yaitubberkumpul dengan orang sholeh, orang yang bisa menolong kita untuk mendapatkan ketenangan batin. Selain itu, membiasakan diri untuk berpuasa serta menghiasi hari dengan bacaan dzikir dan doa.” Celoteh panjangku dalam menjelaskan makna setiap lirik lagu itu kepadanya.

          Seperti biasanya, pada pukul tiga pagi yang masih gelap itu aku bangun dan beranjak untuk menghilangkan hadats kecilku. Aku pun memunaikan sholat sunah dua rakaat, sebut saja sholat tahajud. Setelah aku menutup sholatku dengan menoleh ke kiri untuk salam, aku mendengar suara dering dari ponselku. Aku merogoh ponselku yang tergeletak di atas neja kecil samping tempat tidurku. Aku melihat adanya panggilan dari sahabatku, Emil. Lalu aku segera mengangkatnya. Dia berkata bahwa dia ingin menerapkan lirik dari tembang “Tombo Ati”. Dia ingin melupakan masalahnya dan menghiasi hari-harinya dengan lantunan ayat suci dari al-quran, doa, dan dzikir. Dia juga membiasakan diri untuk bangun di waktu sepertiga malam untuk sholat tahajud. Kami sering berkomunikasi via telepon dengannya ketika sholat tahajud kami telah usai. Bahkan kami saling membangunkan dan mengingatkan untuk sholat dengan cara menelepon.

          Sejak saat itu dia mulai terlihat tampak lebih ceria dari biasanya. Kini dia lebih piawai untuk mengkreasikan mimik wajah tirusnya. Dia merasa lebih tenang, senang, dan nyaman. Hatinya menjadi sejuk setelah mengenal kebudayaan dari Sunan Bonang untuk masyarakat Tuban.

          Seiring waktu dengan kesabaran yang tinggi, doa Emil telah terkabul. Karena Allah telah menolong ayahnya dengan membuka pintu hatinya. Ayah Emil sadar bahwa yang dia lakukan sangatlah jauh dari kata benar. Kini Ayahnya tidak mau lagi berkecimpung dan berurusan dengan roh-roh halus. Ayah Emil menjauhi hal itu dengan pindah profesi dari peraga sandur menjadi juru parkir. Entah apa yang membuat ayahnya telah sadar. Emil tidak ingin mencari tahu akan hal itu. Dia hanya mengharapkan ayahnya sadar dan kembali ke jalan yang benar. Yang jelas hal ini membuat Emil sangat bahagia. Kebahagiaan itu terlihat jelas saat dia mengkreasikan mimik wajahnya yang sumringah.

          Upah yang didapatkan dari juru parkir tidaklah banyak. Berbeda dengan upah yang didapatkan ayah Emil saat berprofesi sebagai peraga sandur. Sekali pertunjukan saja disewa hingga puluhan juta rupiah. Sedangkan upah juru parkir mungkin tidak sampai ratusan ribu. Tetapi Emil jauh lebih senang. Karena dia telah merasakan ketenangan batin dan hatinya tidak dipenuhi dengan rasa takut dan cemas.

          Emil sadar, bahwa tidak semua kebudayaan di Tuban ini buruk. Ternyata terdapat berjuta keindahan kebudayaan di balik wajah kabupaten dengan julukan “Kota Toak” ini. Salah satunya adalah budaya lagu “Tombo Ati”. Bagiku lagu ini adalah lagu penyejuk kalbu bagi setiap insan yang tidak hanya ada di Tuban, tetapi jugaberbagai daerah di luar kabupaten ini.