Tembang Penyejuk Kalbu
Cerpen Kebudayaan Kabupaten Tuban
Suara ponsel dari sudut
ruang berdering panjang mengganggu tidur nyenyakku. Suaranya berisik terasa
menggelitik sepasang telingaku sehingga aku pun terbangun. Perlahan aku membuka
kelopak mataku. Dengan sangat malas, aku menekan saklar yang menempel di
dinding kamar untuk menerangi ruang kesayanganku. Aku menatap jam di dinding
itu dengan penglihatan yang masih buram. Aku terus menatap jam itu seraya
mengucek sepasang bola mataku. Perlahan lahan nan penuh kepastian, jam itu tak
lagi sembunyikan waktunya. Jarum jam membentuk sudut siku-siku dengan jarum
panjang di angka dua belas, sedangkan jarum pendeknya berada tepat di angka
tiga. Aku pun keluar meninggalkan ruang kesayanganku. Aku menuruni anak tangga
dengan kondisi sekeliling yang gelap. Cahaya hanya ada di ruang kesayanganku
saja. Aku berjalan menuju ke suatu tempat untuk menghilangkan hadats kecilku.
Aku hanyalah seorang gadis
biasa yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Aku sangat mencintai budaya yang
ada di daerah tempat tinggalku. Di pagi nan sunyi itu, aku hanya ingin
menerapkan arti lirik dari sebuah tembang salah satu kebudayaan di daerah
tempat tinggalku, yaitu Kabupaten Tuban. Kebudayaan itu berupa lagu yang
diciptakan oleh Sunan Bonang untuk masyarakat Tuban. Entah mengapa aku sangat
tertarik dengan lagu ini. Bagiku lagu ini adalah obat dari segala permasalahan
kalbu. Lagu ini mampu menggetarkan hati setiap insan yang mendengarnya.
Terdapat pesan tasawuf yang jumlahnya tak sedikit terkandung dalam makna lagu
yang berjudul “Tombo Ati” ini.
Seperti biasanya, aku
menuntut ilmu di salah satu sekolah negeri yang ada di Kabupaten Tuban. Suatu
ketika di saat aku berada di ruang kelas, aku melihat seorang gadis dengan usia
sebayaku. Dia adalah teman sekelasku, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Hanya
sebatas nama yang kutahu darinya. Emil, itulah panggilannya di sekolah. Aku
melihat dia duduk termenung di sebuah bangku. Aku mengamati setiap gerak
geriknya. Dia membalasnya dengan tatapan heran mengarah kepadaku. Seketika itu
aku langsung mengallihkan pandanganku. Dia seorang gadis yang pendiam, bahkan
aku tak pernah mendengar sepatah kata yang terucap dari sepasang bibirnya. Di
bangku kesayangannya itu, Dia tak pernah beranjak meninggalkan bangku
kesayangannya walaupun pada saat waktu istiahat. Menurutku, Emil adalah gadis
pendiam yang tidak berbakat untuk mengekspresikan mimik wajahnya. Dia selalu
memasang ekspresi wajahnya yang datar. Dia membuatku semakin penasaran. Hal ini
mendorongku untuk mulai mendekatinya.
Awalnya
aku bebasa-basi dengannya untuk mencari topik pembicaraan. Aku mengajaknya
mengobrol. Setelah mengenalnya, aku pun merasa nyaman dan suka bergaul dengan
gadis pendiam sepertinya.Ternyata opiniku salah, dia sangatlah ramah dan enak
diajak bicara. Seiring waktu berjalan, kami pun semakin dekat. Banyak topik
yang bisa kami jadikan bahan celotehanku dengan dia. Kini dia mulai bisa mengkreasikan
mimik wajahnya.
Kali
ini, aku melihat wajah lusuh itu kembali lagi. Aku mendekatinya dan melontarkan
berbagai pertanyaan tanpa jeda yang membuatnya malas untuk berkata-kata. Dia
menghela napas panjang, aku pun segera menghentikan pertanyaanku. Matanya
memerah dan berkaca-kaca hingga meneteskan air mata. Dia langsung merogoh
tubuhku lalu memelukku.
“Aku sangat sedih. Bagaimana semua ini bisa
terjadi? Kapan semua ini berakhir?” katanya seraya merangkul tubuhku.
Aku diam seribu bahasa dengan pikiran yang penuh
tanda tanya. Dia pun melepaskan pelukannya. Mungkin karena aku yang terlalu bingung hingga
aku tak kuasa untuk membalas pelukan itu.
Dia bercerita bahwa
ayahnya bekerja sebagai peraga di sebuah pertunjukan tersohor di daerah Tuban, yaitu pertunjukan sandur. Sandur sudah
tidak asing di telinga masyarakat Tuban lagi. Pertunjukan ini tidak bisa lepas
dari hal-hal mistis dari bantuan para makhluk gaib. Mereka selalu menghadirkan
roh-roh halus dalam setiap pertunjukanya. Pertunjukan sandur sangatlah erat
dengan hal yang juga menimbulkan suasana mistis. Hal inilah yang membuat Emil
bersedih. Dia berada di palung kedukaan akan hal yang dilakukan ayahnya. Dia
tidak mau ayah kesayangannya hidup dalam pengaruh roh halus. Hal ini
dikarenakan dunia kerjanya yang mistis dan memuja roh halus.
Setelah
mendengar hal itu, aku sangat terkejut bagaikan petir di siang bolong itu. Rasa
terkejut, iba, dan sedih semua bercampur dan berbaur menjadi satu di dalam
hatiku.
“Sungguh anak piatu yang malang,” bisik dalam
batinku.
Mataku berkaca-kaca seraya ikut terbaur dalam
kesedihan yang dialaminya. Mungkin aku hanya merasakan bagian secuil dari kesedihannya.
Dia
sering menceritakan tingkah laku ayahnya yang makin hari makin aneh. Kerasukan
sudah jadi hal wajar lagi bagi ayah Emil. Ayahnya sering berbicara sendiri,
menangis, tertawa, bahkan teriak-teriak yang tak jelas. Kurasa ayah Emil sudah
semakin akrab dengan roh halus tak kasat mata, bahkan mungkin saja mereka telah
bersahabat.
“Roh halus itu sepertinya nyaman bersinggah di
tubuh kekar ayahku. Dia suka keluar masuk ke dalam tubuh ayahku dan menjadikan
ayahku dalam kendalinya,” Kata Emil seraya tak mau berhenti mengalirkan air
mata.
“Ayahku orang yang sangat baik. Aku tidak ingin
ayahku berada di jalan yang salah. Semua kebudayaan di daerah ini sama saja.
Kebudayaan itu membawa keburukan,” air matanya yang mengalir semakin deras.
Aku
bukanlah penasihat terbaik, aku hanyalah si gadis biasa yang menyukai
kebudayaan tembang ciptaan Sunan Bonang yaitu lagu “Tombo Ati”. Dari tembang
itu, aku mulai suka memberi nasihat kepada orang lain. Bagiku, nasihat merupakan celotehan berfaedah untuk
orang lain. Aku pun mencari titik celah kesedihan yang dialaminya. Tidak semua
kebudayaan di Tuban membawa keburukan. Aku kurang setuju dengan opininya bahwa
semua budaya daerah ini buruk. Aku ingin menentang pendapat Emil. Tapi tidak
mungkin aku mencari masalah dengan bertengkar karena perbedaan opini seperti
ini. Justru aku harus menolong dan menyelamatkannya dari masalahnya.
Banyak
yang tidak sadar akan kebudayaan lain yang membawa kebaikan bagi masyarakat
Tuban. Kebudayaan yang memiliki alunan suara indah dan makna mendalam. Aku
mengenalkan kebudayaan favoritku kepadanya, yaitu lagu”Tombo Ati”.
“Aku tak mampu menghilangkan kesedihanmu, tetapi
aku hanya berusaha untuk mengurangi kesedihanmu.” Kataku seraya menepuk
pundaknya.
Aku
menjelaskan makna tembang di setiap lirik lagu tersebut. Lagu itu merupakan
gending jawa berisi tasawuf dari Sunan Bonang untuk kebaikan masyarakat Tuban
dan sekitarnya. Dalam lagu itu dijelaskan cara mengatasi berbagai persoalan
hidup, khususnya masalah kalbu.
“Yang pertama yaitu membiasakan diri untuk membaca
al-quran disertai dengan maknanya. Yang kedua yaitu mendirikan sholat di bagian
waktu satu per tiganya malam. Yang ketiga yaitubberkumpul dengan orang sholeh,
orang yang bisa menolong kita untuk mendapatkan ketenangan batin. Selain itu,
membiasakan diri untuk berpuasa serta menghiasi hari dengan bacaan dzikir dan
doa.” Celoteh panjangku dalam menjelaskan makna setiap lirik lagu itu
kepadanya.
Seperti
biasanya, pada pukul tiga pagi yang masih gelap itu aku bangun dan beranjak
untuk menghilangkan hadats kecilku. Aku pun memunaikan sholat sunah dua rakaat,
sebut saja sholat tahajud. Setelah aku menutup sholatku dengan menoleh ke kiri
untuk salam, aku mendengar suara dering dari ponselku. Aku merogoh ponselku
yang tergeletak di atas neja kecil samping tempat tidurku. Aku melihat adanya
panggilan dari sahabatku, Emil. Lalu aku segera mengangkatnya. Dia berkata
bahwa dia ingin menerapkan lirik dari tembang “Tombo Ati”. Dia ingin melupakan
masalahnya dan menghiasi hari-harinya dengan lantunan ayat suci dari al-quran,
doa, dan dzikir. Dia juga membiasakan diri untuk bangun di waktu sepertiga
malam untuk sholat tahajud. Kami sering berkomunikasi via telepon dengannya
ketika sholat tahajud kami telah usai. Bahkan kami saling membangunkan dan
mengingatkan untuk sholat dengan cara menelepon.
Sejak
saat itu dia mulai terlihat tampak lebih ceria dari biasanya. Kini dia lebih
piawai untuk mengkreasikan mimik wajah tirusnya. Dia merasa lebih tenang,
senang, dan nyaman. Hatinya menjadi sejuk setelah mengenal kebudayaan dari
Sunan Bonang untuk masyarakat Tuban.
Seiring
waktu dengan kesabaran yang tinggi, doa Emil telah terkabul. Karena Allah telah
menolong ayahnya dengan membuka pintu hatinya. Ayah Emil sadar bahwa yang dia
lakukan sangatlah jauh dari kata benar. Kini Ayahnya tidak mau lagi
berkecimpung dan berurusan dengan roh-roh halus. Ayah Emil menjauhi hal itu
dengan pindah profesi dari peraga sandur menjadi juru parkir. Entah apa yang
membuat ayahnya telah sadar. Emil tidak ingin mencari tahu akan hal itu. Dia
hanya mengharapkan ayahnya sadar dan kembali ke jalan yang benar. Yang jelas
hal ini membuat Emil sangat bahagia. Kebahagiaan itu terlihat jelas saat dia
mengkreasikan mimik wajahnya yang sumringah.
Upah
yang didapatkan dari juru parkir tidaklah banyak. Berbeda dengan upah yang
didapatkan ayah Emil saat berprofesi sebagai peraga sandur. Sekali pertunjukan
saja disewa hingga puluhan juta rupiah. Sedangkan upah juru parkir mungkin
tidak sampai ratusan ribu. Tetapi Emil jauh lebih senang. Karena dia telah
merasakan ketenangan batin dan hatinya tidak dipenuhi dengan rasa takut dan
cemas.
Emil
sadar, bahwa tidak semua kebudayaan di Tuban ini buruk. Ternyata terdapat
berjuta keindahan kebudayaan di balik wajah kabupaten dengan julukan “Kota
Toak” ini. Salah satunya adalah budaya lagu “Tombo Ati”. Bagiku lagu ini adalah
lagu penyejuk kalbu bagi setiap insan yang tidak hanya ada di Tuban, tetapi
jugaberbagai daerah di luar kabupaten ini.